Oleh Joey Bangun
Saya tertawa kecil melihat tingkah teman saya yang
berulangkali mengusap keringatnya dengan saputangan. Maklum, teman saya itu
menjadi bintang di pesta siang itu. Dia mengundang saya di hari pernikahannya
yang diadakan di sebuah gedung wilayah Ragunan Jakarta Selatan.
Setiap acara demi acara diikutinya dengan penuh
semangat. Dari pemberkatan di gereja sampai kerja adat. Namun kerja adat ini
merupakan puncak kelelahan dari teman saya ini. Selain di sepanjang acara dia harus
mengenakan ose pakaian adat yang konon sangat berat dan membuat kita kaku untuk
bergerak, dia harus mengikuti proses adat Karo yang penuh dengan tata aturan
turun temurun.
Nyaris satu jam dia berdiri dengan pasangannya
sambil mendengar pedah-pedah dari Kalimbubu. Semua pihak Kalimbubu berganti
bicara. Seolah corong Mic yang dipegang oleh pihak Anak Beru yang didaulat
sebagai MC tidak boleh dibiarkan kering. Tentu saja semuanya harus didengarkan
dengan baik oleh pihak Sukut, terutama teman saya yang punya hajatan ini. Kalau
tidak mendengar, atau paling tidak duduk sambil mendengar, tentu saja akan dianggap
tidak menghargai pihak Kalimbubu yang berjuluk Dibata Ni Idah itu. Dan secara
adat Karo, itu haram hukumnya.
“Hhhh, betul-betul adat Karo ini penuh dengan
bicara. Kau lihat itu tadi Joey, semuanya mau bicara. Padahal yang mereka
bilang itu-itu aja. Terlalu bertele-tele aku lihat. Kenapa enggak satu orang
aja yang bicara mewakili satu Sangkep Nggeluh,” kata teman saya itu ketika
menghampiri saya yang sedang asyik merokok di pojok ruangan.
“Itu namanya adat Karo, teman. Kalau tidak banyak
bicara bukan adat Karo namanya. Justru dengan banyak bicara itulah ciri khas
adat kita,” jawab saya enteng sambil mematikan rokok di tong sampah dekat saya
berdiri.
“Kau enak saja ngomong. Kau belum kawin. Coba kau
kawin nanti, kau pasti mengeluh juga ngikutin adat bertele-tele gitu.” kata
teman saya itu lagi.
“Ah masa sih?” kata saya tertawa sambil
menepuk-nepuk pundaknya,”Temani gadismu itu. Jangan kau lama-lama disini.
Disangkanya nanti kau tidak lagi sayang padanya. Kau harus menjadikannya
seorang putri malam ini. Jangan kau banyak mengeluh, hilang pula moodnya
nanti.”
Teman saya tertawa mengangguk pada saya. Saya
hanya memandang kepergiannya sambil berpikiran bagaimana dengan saya nanti. Mungkin
tahun depan saya akan mengalami hal sama seperti teman saya. Mungkinkah saya akan
mengeluh sama seperti teman saya tadi. Dan menyalahkan adat Karo dengan budaya
banyak bicaranya. Dan kalau saya tidak menggunakan adat dalam menikah, tentu
saja saya akan dicap sebagai anak tidak tahu adat dan tidak beradat!
Budaya Pet
Ngerana
Budaya pet ngerana atau suka berbicara sudah
menjadi tradisi pada masyarakat Karo. Dia hadir karena merupakan kebutuhan
adat. Dan memang berbicara merupakan bagian dari adat Karo itu sendiri. Semua
pedah-pedah dari Sangkep Nggeluh harus didengarkan dengan baik. Konon kalau
tidak ada Sangkep Nggeluh berbicara (baca : berikan pedah) dianggap belum ada
pasu-pasu dari Sangkep Nggeluh.
Namun sayangnya budaya berbicara ini untuk sebagian
orang dianggap terlalu berlebihan. Terkadang terlalu over untuk kondisi tertentu. Misalnya seperti yang dialami saudara
saya ketika ayahnya meninggal.
Mulai dari pagi keesokan harinya dilaksanakan
upacara adat kematen di sebuah Jambur di daerah Padang Bulan. Mulai dari pagi
pula teman saya itu dan segenap anggota keluarganya mengikuti upacara adat ini.
Mulai dari pagi pula teman saya itu harus menari sambil diiringi gendang lima
sedalinen. Mulai dari pagi pula teman saya itu harus mendengarkan pedah-pedah
sangkep nggeluh, sambil menari dan diiringi gendang tradisional Karo itu. Dan
hebatnya, ini mulai berlangsung dari jam 9 pagi sampai jam 3 sore! Dan hanya
diselingi 1 jam untuk makan siang. Dalam posisi yang berduka cita, dia harus
mengikuti semua sesi tari adat kematen. Dan setiap sesi tari bisa memakan waktu
minimal setengah jam.
Tentu saja yang lama disini bukan proses
menarinya. Namun pada saat momen berbicara dari Sangkep Nggeluh. Saya bisa
menghitung rata-rata satu sesi Sangkep Nggeluh yang berbicara bisa 5 sampai 10
orang. Padahal yang berdiri ada 20 orang. Kalau sampai 20 orang yang berbicara
dengan rata-rata berbicara 5 menit, mungkin saja saudara saya itu dan anggota
keluarganya akan pingsan!
“Orang sudah berdukacita begini, malah dipaksa menari
capek-capek sambil mendengar ocehan mereka. Apa mereka tidak punya hati dan
kasihan?!!” kata saudara saya dengan kesal pada saya. Saya maklum padanya
karena saya pernah mengalami hal yang sama saat ayah tercinta meninggalkan kami
tahun lalu.
Sebenarnya adat berbicara ini bisa dipermudah.
Misalnya setiap sesi Sangkep Nggeluh yang berbicara mewakili hanya satu orang, yang
mewakili dari yang paling senior atau dituakan. Dan cukup hanya satu orang.
Tapi adat Karo berbeda. Seseorang tidak puas kalau
dia tidak berbicara. Padahal yang diucapkannya, isi dan pedah sama persis
dengan yang diucapkan orang-orang sebelumnya. Hanya untuk menghormati dan
menghargai dia sebagai sesepuh adat. Tidak lengkap rasanya kalau seseorang itu
belum bicara.
Lucunya pernah saudara saya menari dengan saya
pada saat kami didaulat pihak Anak Beru untuk ke depan. Sambil mendengar
pedah-pedah orang-orang yang posisi Sangkep Nggeluhnya sama dengan kami,
saudara saya menggerutu, “Ngeranai je lalap. E lalap katakenna. La tehna kita
enggo latih cinder jenda.”
Yang membuat lucu ketika giliran saudara saya itu
didaulat untuk berbicara, malah dengan senang hati dia menerima Mic yang
disodorkan padanya dan berbicara dengan gamblang tanpa pengertian pada kami
yang sudah merasa kecapekan.
Satu kesimpulan kecil yang bisa ditarik disini. Orang Karo akan senang bila didaulat untuk
berbicara. Justru dia tidak senang jika melihat orang terlalu banyak bicara.
Pemaparan tulisan ini tentu saja harus ditarik
sebuah kesimpulan matang untuk pelestarian budaya ke depan. Budaya berbicara
tetap tidak bisa dipisahkan dari khazanah budaya Karo. Namun budaya bicara
harus disesuaikan oleh individu-individu yang terlibat dalam menyikapi situasi
dan kondisi tertentu.
Misalnya pada saat mengadakan upacara adat
kematen, kita harus pengertian dengan yang sedang berdukacita. Staminanya pasti
sudah menurun pada saat musibah menimpa dia. Sekarang malah kita paksa dia
berdiri, menari, sambil mendengar kita berbicara dengan tingkah sok bijaksana.
Betapa kasihannya dia.
Mungkin perlu dibuat penyederhanaan adat berbicara
ini. Misalnya setiap sesi mewakili Sangkep Nggeluh hanya satu orang yang
mewakili untuk berbicara. Apakah itu tokoh senior, sesepuh dalam posisi di
Sangkep Nggeluh, atau siapapun itu. Ini cukup mewakili semua pihak yang berdiri
bersamanya. Kalau ini terjadi, mungkin tidak akan menyita waktu atau tidak
membuat bosan dan capek pihak Sukut atau pihak-pihak lain yang terlibat.
Penyederhanaan adat menjadi kesimpulan kita
sebagai pelaku-pelaku adat dalam menyikapi kekayaan yang dimiliki kebudayaan
Karo. Di zaman yang berkembang ini, kita tidak bisa terpaku dengan pola adat
yang memang bukan hidup di zamannya lagi. Disinilah pentingnya kita dalam
memilah-memilah.
Bujur ras Mejuah-juah kita kerina
Batavia,
180907 11.50