2 Karya 2 Peran

March 25th, 2008 by joeybangun

Fiuh…!

Sebenarnya membuat suatu karya
seni susah-susah gampang. Susah kalau kita tidak bisa bekerja sesuai dengan
kenyataan yang kita inginkan. Mudah karena memang kita terlahir untuk membuat
karya seni itu. Bukankah setiap ilham dan ispirasi berasal dari Tuhan. Tuhan
yang memberikan ispirasi pada orang yang tepat untuk merealisasikannya. Sehingga
tugas yang diembankan Sang Pencipta harus kita laksanakan.

 

Karya seni adalah proses. Begitu
juga dengan pengerjaan drama kontemporer Paskah GBKP Rawamangun. Banyak
pengalaman yang bisa digali. Ketemu orang-orang baru aku kenal berikut
bekerjasama dengan mereka. Mungkin karena sudah sering bertemu dengan
orang-orang tipe gini kadang-kadang aku sudah tidak peduli lagi. Orang-orang
yang hanya bisa ngomong tapi tidak profesional di bidangnya. “Tau apa mereka
tentang karyaku!” kataku dalam hati ketika orang-orang komplain denganku saat jam
12 malam padahal 5 jam lagi akan pertunjukan!

 

Untung saja orang-orang yang dipilih
menjadi pelaksana tokoh-tokoh ciptaanku bisa memainkan peranannya. Walau memasuki
hari ketiga latihan tetap saja aku belum menemukan karakter Lucifer dan
Gabriel. Aku tidak puas dengan kenyataan. Sebagai pencipta cerita aku langsung
memutuskan, akulah yang lebih tepat memainkan Lucifer. Sementara Gabriel aku
percayakan Juanita, seorang seksi acara yang memang berbakat. Aku melihat dia
berbakat karena kebetulan aku pernah melatih dia Desember lalu.

 

Sepertinya memegang dua peran
dalam satu proses sangat melelahkan. Apalagi menjadi sutradara merangkap aktor
utama. Betapa melelahkannya. Apalagi sang asisten sutradara Juanita juga jadi
pemain utama. Praktis tidak ada stage manager. Hasilnya seperti Jumat lalu. 10
menit sebelum mentas aku harus merubah blocking sesuai arahan panitia padahal
sewaktu berada di panggung aku baru sadar untuk apa aku merubah blocking. Yang
dikhawatirkan panitia tidak menjadi kenyataan.

 

Sudahlah…hal yang lalu tidak
perlu diperbincangkan lagi….

 

Fiuh…!

Aku jadi teringat next project.
Orang-orang Ginting Suka itu melakukan kesalahan yang sama. Mereka tidak bisa
menyediakan orang yang berperan menjadi Judas. Judas salah satu karyaku yang
lain yang akan dipentaskan 20 April nanti.

 

Lagi-lagi aku berperan ganda.
Dan sangat melelahkan.  Aku tidak mau
kemaruk atau disebut rakus dalam mengambil peran. Aku lebih suka pada saat
pertunjukan, aku duduk di tengah penonton dan menyaksikan karyaku.

 

Artinya…

Aku lebih suka menjadi sutradara
yang tidak berperan ganda.

Film dan Aku

March 5th, 2008 by joeybangun

W4_800 Tadi siang aku nonton film “Ayat-Ayat Cinta” di Mall Artha Gading. Sendiri, tidak ada yang menemani. Seorang teman, satu rumahku, yang kuajak, tidak mau berminat menonton film itu. “Terlalu Islami” katanya. Untuk mengajak pacar tentu saja tidak mungkin. Setelah perpisahan kami Nopember lalu, aku tidak punya seorang hawa yang bisa menemaniku kemana saja.

Ayat-ayat Cinta (AAC) udah jadi target tontonanku dari dulu. Selain karena menghargai Mas Hanung Bramantyo (kami sama-sama anggota MFI) juga menghargai teman satu angkatanku di KPU Sinematografi Pusat Perfilman H. Usmar Ismail (PPHUI), sahabatku Raymond Handaya yang jadi Asisten Sutradara (astrada) di film itu. Kalau buka rahasia, novel AAC baru selesai aku baca kemarin malam setelah 2 bulan yang lalu aku beli di sebuah kios di Senen.

Bayangkan dalam waktu sehari, aku bisa membaca novel itu 250 halaman. Dan untuk itu aku perlu waktu hampir 5 jam. Itupun aku sempatkan karena sedang menunggu interview pekerjaan. Aku bosan menunggu. Bayangkan, kemarin aku harus nunggu di interview dari jam 11 sampai jam 4 sore. Untung saja ada novel itu yang bisa menemaniku. Kalau tidak? Mungkin aku sudah mati kebosanan. Atau kalau tidak ada interview itu mungkin saja aku tidak selesai-selesai membaca novel itu sampai filmnya habis diputar di bioskop.

Membaca curhat Mas Hanung di blog pribadinya, aku jadi tahu suka dukanya membuat film ini. Bisa kubayangkan. Apalagi waktu proses pembuatan film ini, aku masih aktif di MD Entertainment sebagai Asisten Sutradara. Film ini juga produksi MD namun dibuat dengan slogan MD Pictures. Aku tahu betapa ribetnya di MD. Belum lagi kerja dengan India-India itu yang menganggap rasnya lebih tinggi dari kaum pribumi. Bukan apa-apa seorang India line producer sinetron yang aku kerjakan pernah memaki-maki aku gara-gara jadwal syuting melebihi dari tergetnya.

Sebetulnya kontrakku di MD sebanyak 52 episode. Tapi gara-gara aku harus membuat drama Natal di 3 event, akhirnya aku putuskan untuk beristirahat sejenak dari dunia Film. Toh nanti aku bisa kembali lagi pikirku saat itu. Dan tawaran materi dari drama ini hanya bisa kudapatkan dengan mengerjakan 4 episode dalam waktu 1 bulan. Hitung-hitungan, aku lebih untung menyutradarai drama. Tapi inilah awal kesalahanku.

Natal udah lewat. Tapi kecintaanku pada dunia Teater membuat aku punya obsesi lain. Aku sudah menekuni Teater lebih 5 tahun. Dan aku menyayanginya. Teater lebih dari Film bagiku. Karena di Teater aku mendapat kepuasan batin dalam merefleksikan diri, sementara di Film (selama aku bekerja di Multivision dan MD Entertainment) aku hanyalah buruh (baca : robot) yang bekerja 18 jam sehari tapi bergaji kerdil.

Sementara itu salah satu obsesiku dari dulu ingin pentas di gedung pertunjukan dimana dramawan-dramawan terbaik di negeri ini pernah berkarya. Taman Ismail Marzuki. Yah, tempat itu adalah obsesiku. Aku ingin teaterku nanti mentas disana. Sekali saja. Dan sesudah itu mungkin aku puas selamanya. Aku sudah merasa setingkat dengan WS Rendra, Arifin C Noer, Teguh Karya, Nano Riantiarno, Butet Kertarajasa, Putu Wijaya.

Bulan Juni aku pilih sebagai performing art. Naskah aku tulis sendiri berdasarkan riset. Aku melobi kesana-sini. Namun pertunjukan itu harus diundur sampai Oktober karena alasan kompleks. Aku berutang budi pada seseorang. Dan orang itu akan pergi ke luar negeri pada saat pementasan Juni nanti. Aku tidak mungkin menggelar pertunjukan kalau orang yang selama ini mensupportku itu tidak ada. Aku linglung. Antara ambisi dan utang budi. Aku terpuruk. Pikiranku kacau.

Ketika menonton Ayat-Ayat Cinta tadi, muncul kembali obesiku. Aku hubungi sahabatku Raymond Handaya Astrada ACC dan juga Roza Winstar Asisten Kameramen di MD. Kami sama-sama satu kelas di sekolah film dulu. Aku ingin reuni. Aku ingin kembali ke duniaku. Dunia film. Dunia yang hampir setengah tahun aku tinggalkan itu. Besok kami akan bersua kembali. Menceritakan tentang kisah pengalaman masing-masing dan obsesi ke depan. Taman Ismail Marzuki akan menjadi saksi pertemuan kami.

Aku teringat pertanyaan awal yang diucapkan bos perusahaan yang mewawancaraku kemarin, “Apa tujuan hidupmu?”

Dengan tegas aku katakan padanya, “Aku ingin menjadi Sutradara Film!”

FENOMENA BIANG

January 17th, 2008 by joeybangun

oleh JOEY BANGUN

Biang (Bahasa Indonesia : Anjing) adalah binatang berkaki empat yang suka menggonggong.  Bagi orang Karo non Muslim daging biang yang biasa dimakan disebut B1. Sedang untuk daging Babi disebut B2. Mungkin pengertian B1 dan B2 yang muncul pada makanan khas suku Karo ini diambil dari jumlah B pada kosa kata dalam namanya.

Tidak semua merga suku diperbolehkan makan daging biang. Merga Sembiring contohnya. Tapi tidak juga semua sub merga Sembiring tidak boleh makan biang. Merga Sembiring golongan Singombak (menghanyutkan perabuan) menjadi golongan la tengka man biang (pantang makan daging anjing). Merga Sembiring yang digolongkan Singombak ini adalah Brahmana, Pandia, Colia, Guru Kinayan, Keling, Depari, Pelawi, Bunuh Aji, Busuk, Muham, Meliala, Pande Bayang, Maha, Tekang dan Kapur. Sementara golongan Sembiring yang tengka man biang (boleh makan daging anjing) adalah Kembaren, Keloko, Sipayung, Sinulaki.

Golongan Sembiring Singombak tidak diperbolehkan makan daging biang tentu ada sebabnya. Konon hal ini terjadi karena salah seorang nenek moyang merga Sembiring pernah dikejar musuhnya kemudian menyelamatkan diri dengan menceburkan diri ke sebuah sungai dan hampir tenggelam. Seekor anjing kemudian menyelamatkan orang itu dan membawanya ke seberang. Mulai dari situ Merga Sembiring Singombak berjanji untuk pantang makan daging anjing dan sungai tersebut dinamakan Lau Biang.

Lau Biang mempunyai cerita tersendiri. Siapa yang tidak tahu fenomena Gertak (baca : jembatan) Lau Biang. Gertak Lau Biang adalah jembatan yang menghubungkan kuta Batukarang, Nageri, dan Singgamanik ini adalah saksi bisu segala penindasan dan dokumen sejarah. Gertak Lau Biang menjadi tujuan dari beberapa daerah di Sumatera Utara untuk pengeksekusian orang-orang yang dianggap antek-antek Belanda dan PKI. Mereka dibunuh dengan cara biadab. Ada yang dipancung, ditikam bahkan langsung dibuang begitu saja dari jembatan itu ke sungai Lau Biang yang deras. Biasanya malam pengeksekusian dini hari. Gertak Lau Biang telah menjadi fenomena tersendiri bagi masyarakat Karo. Banyak cerita yang mewarnai fenomena tersebut. Fenomena itu menjadi misteri yang sulit untuk terungkap. Tentang Gertak Lau Biang bisa disimak di kolom Joey Bangun di website www.tanahkaro.com. Tulisan ini pernah dimuat di beberapa media daerah dan Nasional.

Biang kuta, itulah sebutan bagi anjing kampung. Di pedesaan Karo, biang kuta biasanya dipelihara dan dibiarkan berkeliaran begitu saja. Anjing-anjing itu biasanya tugasnya menjaga kesain (halaman) kuta. Jadi tiap kesain ada anjing penjaganya. Di setiap rumah orang Karo di Medan dan sekitarnya, anjing-anjing kampung ini biasanya dijadikan anjing peliharaan untuk menjaga rumah.

Tentang biang peliharaan di rumah juga punya cerita unik. Banyak nande-nande pemilik anjing di Jambur dan Losd selesai pesta adat pergi ke dapur. Biasanya mereka minta dikantongkan dalam plastik makanan sisa-sisa pesta. Jika ditanya, jawaban mereka pasti sama, “Man perpangan biangku.”

Belakangan biang tidak hanya dijadikan hewan peliharaan ataupun makanan. Namun juga kata-kata sumpah serapah pada hal-hal tidak berkenan. Biasanya diucapkan spontan sebagai bentuk emosional pada lawan bicara. Betapa malangnya nasib biang, sudah dijadikan makanan malah diucapkan sebagai sumpah serapah.

Sebuah filosofi Karo menutup tulisan ini. Bagi sinangtangi biang kicat, sinangtangisa karatna (seperti melepas anjing terjepit, yang melepaskannya malah digigitnya) artinya seseorang yang sudah ditolong malah menjatuhkan orang yang menolongnya. Hati-hati, fenomana filosofi ini banyak terjadi di masyarakat Karo.

tulisan JOEY BANGUN di COSMOPOLITAN-MEN

December 16th, 2007 by joeybangun

COSMOPOLITAN- MEN (Indonesia) Edisi Desember 2007

Tulisan saya berjudul "BERCINTA ALA DON JUAN" dimuat di majalah pria dewasa COSMOPOLITAN- MEN edisi Desember 2007. Artikel ini dimuat di halaman 64-67 di rubrik COSMO MEN RELATIONSHIP.

Dalam artikel kali ini, saya memaparkan bagaimana teknik/cara untuk menundukkan hati wanita dengan referensi kisah hidup Don Juan yang dikarang oleh pujangga Spanyol Tirso de Molina dalam El burlador de Sevilla y Convidado de Piedra tahun 1630. Saya memberikan 5 tip/rahasia dari Don Juan kepada pembaca Cosmo berikut moral cerita dari kisah hidupnya. Bagaimana ketika Don Juan bercumbu dengan Dona Ana, tunangan sahabatnya Don Luis. Don Juan juga mempunyai kekasih sejati Dona Ines yang ditundukkan hatinya di Sevilla. Di artikel ini saya memaparkan 4 sifat Don Juan yang tidak layak ditiru pembaca ketika bercinta.

Profil singkat saya berikut foto saya (Photo close up with smoke B/W karya fotografer Karo Ari Angin) dimuat di halaman 15 berikut 20 profil dan foto kontributor lainnya.

Secara pribadi saya mengucapkan terima kasih kepada Fira Basuki (Chief Editor) dan Dameria Hutabarat (Feature Editor) COSMOPOLITAN yang telah mengijinkan dan mengedit tulisan saya hingga layak dimuat di salah satu majalah life style terbesar ini.

Dalam tulisan kali ini, saya bisa membuktikan kalau saya tidak hanya bisa menulis seni, budaya, cerpen maupun fiksi. Ternyata saya baru sadar diberikan juga karunia untuk menulis life style khususnya untuk pria dewasa. Setelah menulis tentang Don Juan di COSMPOLITAN- MEN, beberapa teman menanyakan pada saya apakah ini pengalaman pribadi saya sebagai seorang Don Juan? Ha…ha…ha. … saya tidak bisa menjawabnya. .. coba tanyakan pada wanita-wanita di sekeliling saya…ha..ha. .ha…

Ingin menjadi penakluk hati wanita sejati, baca artikel Joey Bangun "Bercinta Ala Don Juan" hanya di COSMPOLITAN- MEN edisi Desember  2007. 

21 CONTRIBUTOR COSMOPOLITAN- MEN DECEMBER 2007
- Aidil Akbar Madjid (Perencana Keuangan)
- Alexander Sriewijono (Full Passion of Daily Meaning)
- Alex Zulkarnaen (Reporter Kriminal)
- Andre Reza Asmara (Produser & Presenter)
- Andri Raditya (Otomotif Contributor)
- Budityas Basuki (Editor Autocar)
- Burat Pangeran (Copywriter Advantage)
- Edwin Handoyo (Runner Up Mr. Indonesia)
- Erwin Darma (Lumibox Production Owner)
- Hanung Bramantyo (Sutradara Film)
- Haryo Pramoe (Chef)
- Hilbram Duner (Presenter)
- Indra Herlambang (Presenter & Penyiar)
- Joey Bangun (Model & Sutradara Teater)
- Joko Anwar (Sutradara Film)
- Moammar Emka (Penulis Jakarta Undercover)
- Nanang Hape (Sutradara Teater)
- Ronal Surapradja (Presenter)
- Timur Angin (Fotografer)
- VJ Mike (VJ MTV)
- Yusrien Hady (Writer)

COSMOPOLITAN- MEN Edisi Desember 2007
Cover Hugh Jackman, background warna coklat
Dapatkan di toko buku dan agen majalah terdekat di kota anda dengan harga Rp. 35.000 (Jawa & Bali) & Rp.  36.000 (Luar Jawa & Bali)

Kritik

December 8th, 2007 by joeybangun

Baru saja aku dan
teman-teman teater gabungan permata GBKP Jakarta Palembang menyelesaikan sebuah
pertunjukan yang diberi label olehku “Tabas”. Bagi orang karo, judul itu
mungkin sudah bisa menebak kalau sendratari Karo kontemporer ini ada
hubungannya dengan dukun atau lazim disebut guru.

Sebagai
sutradara/koreografer aku tidak menyangka pertunjukan ini akan sesukses ini.
Penonton terpukau dan bertepuktangan meriah untuk kami. Padahal pada saat kami
pentas, suasana masih kebaktian dan dalam tata ibadah GBKP haram hukumnya jika
pas kebaktian berepuktangan. Disinilah pesona salah satu karyaku, aku pikir.
Thanks God!

But,

Selesai mentas,
tiba-tiba seksi acara datang padaku. Dia bilang majelis gereja mengkritik
pertunjukanku karena berbau mistis yang tidak layak ditampilkan di gereja. Ya
Tuhan, aku pikir. Pertunjukanku sama sekali tidak ada berbau mistik. Hanya karena
tarian itu diambil tari tradisi Karo maka itu dibilang mistik? Padahal dipertunjukan
ini aku memerankan Jesus Christ, my savior!

Sempat aku
menanggapi emosional dan mengancam akan mengundurkan diri dari posisi sutradara
untuk drama Natal di gereja itu. But, mungkin ini sebagai bentuk refleks
emosionalku sebagai manusia. Tapi akhirnya aku menanggapi kritik itu dengan
santai. Aku menyadari orang-orang yang mengkritikku adalah orang-orang kaku dan
ortodoks yang tidak bisa mengapresiasikan karya seni. Apalagi orang itu
(sipengkritik) selama ini sudah merasa jadi dewa dan merasa memiliki gereja
itu. Atau memang dia iri karena aku bisa mementaskan suatu karya yang begitu
indahnya…hehehe…(positive thinking ajalah Joey)

Tuhanpun akan
tahu siapa yang salah. Buktinya di rumahNya, aku bisa mementaskan suatu karya
seni tradisi dimana begu/setan tidak datang sama sekali. Mungkin karena aku
memerankan tokoh Jesus Christ itu sebagai penangkalnya.. ha..ha..ha….

/\***SYMPHONY OF HEAVEN***/\

December 7th, 2007 by joeybangun
WOMEN’S INTERNATIONAL CLUB
(WIC)

Proudly Present

A Christmas Drama

SYMPHONY OF HEAVEN
(with English language)

directed by JOEY BANGUN
script writer by
JOEY BANGUN

script editor by
MEITY ROBOT

official media partner
THE JAKARTA POST

official website
www.wic-jakarta.or.id

Monday, December 10, 2007
10.30 AM
Caraka Loka Building (DEPLU)
Jalan Sisingamangaraja  #73
Kebayoran Baru, Jakarta Selatan

SYNOPSIS
This is a drama about Heaven, where Ruth meets Ester and Naomi. They are discussing the birth of Jesus Christ, God’s Son. The angel Gabriel appears and tells them about God’s plan with the birth of His Son and the duties that he has already performed. He shows them the world where Mary meets her cousin Elizabeth. From the meeting of Mary and Elizabeth they make the conclusion what God’s plan is with the birth of His Son.

“Symphony of Heaven” is a drama of two dimensions between heaven and earth.  The drama is performed by the members of the Women’s International Club and is directed by Joey Bangun.

[~TABAS~]

December 7th, 2007 by joeybangun
"Tabas biasa disebut mantra, perkataan yang diucapkan untuk mendatangkan kesaktian, kesehatan, dan kesembuhan. Diucapkan bukan oleh orang biasa, tapi orang tertentu yang biasanya disebut guru atau dukun"
TEATER GABUNGAN PERMATA KLASIS JAKARTA-PALEMBANG
dalam pementasan refleksi rohani

Sendratari Karo Kontemporer kolaborasi Teater Mini Kata

[~TABAS~]

koreografer/ sutradara JOEY BANGUN


Konsultan Ritus Tradisi Karo
EDDY SURBAKTI

Special Performance by
Juanita br Sembiring (GBKP Rawamangun)
sebagai GURU SIBASO

Zulkarnaen Batubara (GBKP Tanjung Priok)
sebagai GURU MBELIN

Sisca br Bangun (GBKP Jakarta Pusat)
sebagai NANDE ARON

Fransiska br Sinuraya (GBKP Jakarta Pusat)
sebagai ARON ERTAMBAR

dan

Joey Bangun (GBKP Jakarta Pusat)
sebagai PERMAKAN - - JESUS CHRIST

Natal Permata Klasis Jakarta-Palembang
Sabtu, 8 Desember 2007
16.00 - selesai
Gereja GBKP Jakarta Pusat

Supported by

BP GBKP Klasis Jakarta-Palembang
Permata GBKP Klasis Jakarta-Palembang
Permata GBKP Jakarta Pusat
www.tanahkaro. com
Radio Karo Access Global
Aron Entertainment

Special Thanks to

Alm Tukang Ginting
Drs Antonius Bangun, MA
Eddy Surbakti
Advanta Tarigan
Putra Sembiring
Indah br Purba
Rieka br Barus
Permata GBKP Jakarta Pusat
Permata GBKP Rawamangun
Permata GBKP Tanjung Priok

"Aku berikan cahaya ini, sebagai refleksi hidupmu. Agar kau bisa bercermin kalau tidak akan ada lagi gelap. Gelap tidak lagi gelap. Tetapi sudah menjadi terang"

Tafsirkan pikiran dan imajinasi anda ketika menyaksikan pertunjukan absurd ini!

20 Tahun Eksistensi Tio Fanta Pinem

November 21st, 2007 by joeybangun

Mejuah-juah,

Di tulisan saya berjudul "Eksistensi Keseniman Karo" (baca di www.tanahkaro.com kolom Joey Bangun) yang pernah dimuat di sebuah media, saya menyebutkan Tio Fanta adalah Seniman Karo berkultur pop. Dia lahir bukan dari seni tradisi. Melainkan berawal dari pop kemudian merambah ke seni tradisi. Sebuah gaya yang biasa dilakukan oleh Seniman bertaraf Nasional untuk mendapat pengakuan dari daerahnya sendiri. Namun terkadang seorang Seniman Pop yang merambah ke seni tradisi sudah tidak bisa lepas lagi dari seni tradisi. Akhirnya dia tidak bisa mengangkat lagi namanya ke seni bertaraf Nasional.

Secara pribadi, saya mengenal namanya sewaktu saya masih sekolah dasar. Ketika seni lukis masih menjadi salah bakat saya. Saya pernah menonton dia menyanyi di Aneka Ria Safari di TVRI. Pada masa itu acara Aneka Ria Safari merupakan sebuah acara untuk menunjukkan eksistensi penyanyi Indonesia. Dan seorang Tio Fanta menyanyi di acara itu!

20 tahun kemudian saya baru bisa berkenalan dengan seorang Tio. Itupun karena saya diundang oleh PESIKAPI (Persatuan Seniman Karo dan Pemerhati) untuk menghadiri pesta ulang tahunnya Tio Fanta. Pertama saya mengenalnya saya yakin seorang Tio Fanta tidaklah sombong. Apalagi dia pernah mengatakan pada saya dia kagum pada sepak terjang saya, dan sering membaca tulisan-tulisan saya. Bagaimana perasaan anda jika dipuji seorang maestro?

Di saat saya pertama kali mengenal Tio Fanta, yang membuat menarik adalah, Tio Fanta lahir dari keluarga Seniman. Besar di Sidikalang tanah suku Pakpak lalu hijrah ke Yogya dan menekuni bakatnya menyanyi disana. Seluruh keluarganya mendukung karirnya.

Awal karirnya, Tio Fanta tidak menyebutkan beru Pinem dibelakang namanya. Hal ini membuat protes beberapa kalangan masyarakat Karo walau beberapa waktu terakhir dia sudah menambalkan berunya di belakang namanya. Tio Fanta tidak hanya dikenal di kalangan masyarakat Karo, namun juga masyarakat Pakpak bahkan Toba. Tio Fanta pernah menyebutkan undangan menyanyi beberapa waktu terakhir justru lebih banyak di kalangan masyarakat Batak dibanding Karo. Mungkin itu sebabnya musisi Viky Sianipar merekrutnya menjadi salah satu penyanyinya. Selain dengan Viky, Tio Fanta pernah berkolaborasi dengan musisi Batak lainnya seperti Charles Simbolon. Bahkan dia pernah menyanyi lagu dari daerah Nusa Tenggara Timur.

Karir Tio Fanta tidak lepas dari suami tercinta Isfridus Sinulingga. Isfrid bukan orang biasa. Dia berdarah biru. Cucu dari Sibayak Lingga terakhir Raja Kelelong Sinulingga pewaris Pisau Bawar lambang supremasi kerajaan Lingga. Isfrid memberikan kepercayaan diri penuh pada Tio Fanta dalam menapaki karirnya. Hal ini sangat diperlukan pengertian dan perhatian jika kita mempunyai pasangan seorang Seniman.

Salah satu sifat sosialnya yang tinggi, ketika dia mendengar ayah saya tercinta meninggal dunia tahun lalu. Bentuk perhatiannya diberikannya sebuah karangan bunga besar untuk menghormati kepergian ayah saya itu. Walau saat itu saya sedang berduka, namun saya cukup bangga ketika orang-orang di Jambur Namaken bertanya apa hubungan saya dengan seorang Tio Fanta.

Seluruh masyarakat Karo tahu siapa Tio Fanta, dan juga eksistensinya. Itulah sebabnya kita tidak perlu terkejut jika konser menyambut dua dekade ini digelar. Paling tidak inilah bentuk penghargaan yang pernah dibuatnnya. Terlebih untuk perkembangan musik masyarakat Karo. Musisi Karo dan di luar Karo akan ambil bagian. Buku biografi perjalanan karirnya akan diluncurkan. Tentu saja ini akan menambah khazanah kesusasteraan Karo.

Mari kita sambut dan dukung penuh konser Tio Fanta "Dua Dekade Menguntai Nada!" Dan membarikan apalaus bagi sang maestro ketika mengakhiri semua dengan suara emasnya.

Joey Bangun
Seniman Karo

Jakarta, 221107 07.24

Dunia Kecil

October 12th, 2007 by joeybangun
Diadaptasi dari film "Honey, I shrank the kid" MD Entertainment mempersembahkan sebuah mini seri berjudul "Dunia Kecil". Mini Seri berdurasi 2 jam ini dibintangi oleh Marsya Aruan, Kesha Ratulio, Unang Bagito, Bemby Patuanda, Dewi Siska.
Film ini menggunakan efek, grafis, dan animasi yang berbeda dengan film/sinetron Indonesia umumnya. Disutradarai oleh sutradara asal India, Jogie Dayal. Di Film ini saya (Joey Bangun) berposisi sebagai asisten sutradara.
Besok FTV "DUNIA KECIL" tayang di SCTV selama 2 hari dalam 2 episode :
Sabtu, 13 Oktober 2007 jam 9 pagi &
Minggu, 14 Oktober 2007 jan 7.30 pagi
DUNIA KECIL produksi MD Entertainment
Arya : Bemby Patuanda
Indra : Unang Bagito
Maya : Dewi Siska
Irma : Yoelita Pallar
Andien : Marsya Aruan
Teddy : Brody
Kesha : Kesha Ratulio
Tommy : Baron Yusuf Siregar
PRODUCER
Manoj Punjabi
Dhamoo Punjabi
LINE PRODUCER
Kishin
DIRECTOR
Jogie Dayal (India)
CO-DIRECTOR
Asep Septian
1st ASSISTANT DIRECTOR
James Michael
2nd ASSISTANT DIRECTOR
Joey Bangun
SCRIPTMAN
Yaya Kuningan
DIRECTOR OF PHOTOGRAPHY
Roy Pakasi
ASSISTANT CAMERA
Mamat & Dian
CHIEF LIGHTING
Joshua
SCREEN WRITER
Sabrina Firdaus
ART DIRECTOR
Wawan Art
WARDROBE
Ani & Fida
MAKE UP
Bertha & Nabila
UNIT MANAGER
Junjun Simatupang
ASSISTANT UNIT
Cupu & Imelda Pohan

Pet Ngerana

September 17th, 2007 by joeybangun

Oleh Joey Bangun

Saya tertawa kecil melihat tingkah teman saya yang
berulangkali mengusap keringatnya dengan saputangan. Maklum, teman saya itu
menjadi bintang di pesta siang itu. Dia mengundang saya di hari pernikahannya
yang diadakan di sebuah gedung wilayah Ragunan Jakarta Selatan.

 

Setiap acara demi acara diikutinya dengan penuh
semangat. Dari pemberkatan di gereja sampai kerja adat. Namun kerja adat ini
merupakan puncak kelelahan dari teman saya ini. Selain di sepanjang acara dia harus
mengenakan ose pakaian adat yang konon sangat berat dan membuat kita kaku untuk
bergerak, dia harus mengikuti proses adat Karo yang penuh dengan tata aturan
turun temurun.

 

Nyaris satu jam dia berdiri dengan pasangannya
sambil mendengar pedah-pedah dari Kalimbubu. Semua pihak Kalimbubu berganti
bicara. Seolah corong Mic yang dipegang oleh pihak Anak Beru yang didaulat
sebagai MC tidak boleh dibiarkan kering. Tentu saja semuanya harus didengarkan
dengan baik oleh pihak Sukut, terutama teman saya yang punya hajatan ini. Kalau
tidak mendengar, atau paling tidak duduk sambil mendengar, tentu saja akan dianggap
tidak menghargai pihak Kalimbubu yang berjuluk Dibata Ni Idah itu. Dan secara
adat Karo, itu haram hukumnya.

 

“Hhhh, betul-betul adat Karo ini penuh dengan
bicara. Kau lihat itu tadi Joey, semuanya mau bicara. Padahal yang mereka
bilang itu-itu aja. Terlalu bertele-tele aku lihat. Kenapa enggak satu orang
aja yang bicara mewakili satu Sangkep Nggeluh,” kata teman saya itu ketika
menghampiri saya yang sedang asyik merokok di pojok ruangan.

 

“Itu namanya adat Karo, teman. Kalau tidak banyak
bicara bukan adat Karo namanya. Justru dengan banyak bicara itulah ciri khas
adat kita,” jawab saya enteng sambil mematikan rokok di tong sampah dekat saya
berdiri.

 

“Kau enak saja ngomong. Kau belum kawin. Coba kau
kawin nanti, kau pasti mengeluh juga ngikutin adat bertele-tele gitu.” kata
teman saya itu lagi.

 

“Ah masa sih?” kata saya tertawa sambil
menepuk-nepuk pundaknya,”Temani gadismu itu. Jangan kau lama-lama disini.
Disangkanya nanti kau tidak lagi sayang padanya. Kau harus menjadikannya
seorang putri malam ini. Jangan kau banyak mengeluh, hilang pula moodnya
nanti.”

 

Teman saya tertawa mengangguk pada saya. Saya
hanya memandang kepergiannya sambil berpikiran bagaimana dengan saya nanti. Mungkin
tahun depan saya akan mengalami hal sama seperti teman saya. Mungkinkah saya akan
mengeluh sama seperti teman saya tadi. Dan menyalahkan adat Karo dengan budaya
banyak bicaranya. Dan kalau saya tidak menggunakan adat dalam menikah, tentu
saja saya akan dicap sebagai anak tidak tahu adat dan tidak beradat!

 

Budaya Pet
Ngerana 

Budaya pet ngerana atau suka berbicara sudah
menjadi tradisi pada masyarakat Karo. Dia hadir karena merupakan kebutuhan
adat. Dan memang berbicara merupakan bagian dari adat Karo itu sendiri. Semua
pedah-pedah dari Sangkep Nggeluh harus didengarkan dengan baik. Konon kalau
tidak ada Sangkep Nggeluh berbicara (baca : berikan pedah) dianggap belum ada
pasu-pasu dari Sangkep Nggeluh.

 

Namun sayangnya budaya berbicara ini untuk sebagian
orang dianggap terlalu berlebihan. Terkadang terlalu over untuk kondisi tertentu. Misalnya seperti yang dialami saudara
saya ketika ayahnya meninggal.

 

Mulai dari pagi keesokan harinya dilaksanakan
upacara adat kematen di sebuah Jambur di daerah Padang Bulan. Mulai dari pagi
pula teman saya itu dan segenap anggota keluarganya mengikuti upacara adat ini.
Mulai dari pagi pula teman saya itu harus menari sambil diiringi gendang lima
sedalinen. Mulai dari pagi pula teman saya itu harus mendengarkan pedah-pedah
sangkep nggeluh, sambil menari dan diiringi gendang tradisional Karo itu. Dan
hebatnya, ini mulai berlangsung dari jam 9 pagi sampai jam 3 sore! Dan hanya
diselingi 1 jam untuk makan siang. Dalam posisi yang berduka cita, dia harus
mengikuti semua sesi tari adat kematen. Dan setiap sesi tari bisa memakan waktu
minimal setengah jam.

 

Tentu saja yang lama disini bukan proses
menarinya. Namun pada saat momen berbicara dari Sangkep Nggeluh. Saya bisa
menghitung rata-rata satu sesi Sangkep Nggeluh yang berbicara bisa 5 sampai 10
orang. Padahal yang berdiri ada 20 orang. Kalau sampai 20 orang yang berbicara
dengan rata-rata berbicara 5 menit, mungkin saja saudara saya itu dan anggota
keluarganya akan pingsan!

 

“Orang sudah berdukacita begini, malah dipaksa menari
capek-capek sambil mendengar ocehan mereka. Apa mereka tidak punya hati dan
kasihan?!!” kata saudara saya dengan kesal pada saya. Saya maklum padanya
karena saya pernah mengalami hal yang sama saat ayah tercinta meninggalkan kami
tahun lalu.

 

Sebenarnya adat berbicara ini bisa dipermudah.
Misalnya setiap sesi Sangkep Nggeluh yang berbicara mewakili hanya satu orang, yang
mewakili dari yang paling senior atau dituakan. Dan cukup hanya satu orang.

 

Tapi adat Karo berbeda. Seseorang tidak puas kalau
dia tidak berbicara. Padahal yang diucapkannya, isi dan pedah sama persis
dengan yang diucapkan orang-orang sebelumnya. Hanya untuk menghormati dan
menghargai dia sebagai sesepuh adat. Tidak lengkap rasanya kalau seseorang itu
belum bicara.

 

Lucunya pernah saudara saya menari dengan saya
pada saat kami didaulat pihak Anak Beru untuk ke depan. Sambil mendengar
pedah-pedah orang-orang yang posisi Sangkep Nggeluhnya sama dengan kami,
saudara saya menggerutu, “Ngeranai je lalap. E lalap katakenna. La tehna kita
enggo latih cinder jenda.”

 

Yang membuat lucu ketika giliran saudara saya itu
didaulat untuk berbicara, malah dengan senang hati dia menerima Mic yang
disodorkan padanya dan berbicara dengan gamblang tanpa pengertian pada kami
yang sudah merasa kecapekan. 

 

Satu kesimpulan kecil yang bisa ditarik disini. Orang Karo akan senang bila didaulat untuk
berbicara. Justru dia tidak senang jika melihat orang terlalu banyak bicara. 

 

Pemaparan tulisan ini tentu saja harus ditarik
sebuah kesimpulan matang untuk pelestarian budaya ke depan. Budaya berbicara
tetap tidak bisa dipisahkan dari khazanah budaya Karo. Namun budaya bicara
harus disesuaikan oleh individu-individu yang terlibat dalam menyikapi situasi
dan kondisi tertentu.

 

Misalnya pada saat mengadakan upacara adat
kematen, kita harus pengertian dengan yang sedang berdukacita. Staminanya pasti
sudah menurun pada saat musibah menimpa dia. Sekarang malah kita paksa dia
berdiri, menari, sambil mendengar kita berbicara dengan tingkah sok bijaksana.
Betapa kasihannya dia.

 

Mungkin perlu dibuat penyederhanaan adat berbicara
ini. Misalnya setiap sesi mewakili Sangkep Nggeluh hanya satu orang yang
mewakili untuk berbicara. Apakah itu tokoh senior, sesepuh dalam posisi di
Sangkep Nggeluh, atau siapapun itu. Ini cukup mewakili semua pihak yang berdiri
bersamanya. Kalau ini terjadi, mungkin tidak akan menyita waktu atau tidak
membuat bosan dan capek pihak Sukut atau pihak-pihak lain yang terlibat.

 

Penyederhanaan adat menjadi kesimpulan kita
sebagai pelaku-pelaku adat dalam menyikapi kekayaan yang dimiliki kebudayaan
Karo. Di zaman yang berkembang ini, kita tidak bisa terpaku dengan pola adat
yang memang bukan hidup di zamannya lagi. Disinilah pentingnya kita dalam
memilah-memilah.

 

Bujur ras Mejuah-juah kita kerina

 

Batavia,
180907 11.50